Yemayo Advance Education CenterKursus Pengasahan Kecerdasan Pribadi
Cab. Pluit - Jln. Pluit Selatan II no.3, Jkt Utr
Phone: 6603390 / 021.70650001
Cab. Kelapa Gading - Jln. Raya Kelapa Cengkir Blok CL1 no.1
Phone: 4532082 / 021-91262392
Cab. Meruya - Taman Meruya Ilir H2 no.34
Phone: 5856479 / 021-23892303
Menerima murid dari usia: 2 tahun s.d 19 tahun
(Rabu & Minggu tutup)
LIHAT WEB KAMI YANG BARU
Jln. Pluit Selatan II no.3
Jakarta Utara 14450
ph: 021-70650001
fax: 021-6603390
alt: 6603390
info
Artikel Periode: 08/12/08 - 13/12/08
Bola-bola yang telah membantu merubah Pola Pikir
Bagaimana bola-bola yang bulat bentuknya itu telah banyak sekali membantu proses pelatihan Kecerdasan Pribadi?
Artikel Periode: 01/12/08 - 06/12/08
Proses Memperbaiki Memang Tidak Menyenangkan!
Namun akan lebih banyak hal lagi yang tidak menyenangkan bila anda tidak memperbaiki hubungan anda dengan anak-anak anda.
Artikel Periode: 24/11/08 - 29/11/08
Banyak orangtua 'gugup' mendisiplinkan anak! (Sambungan)
Artikel Periode: 24/11/08 - 29/11/08
Banyak orangtua 'gugup' mendisiplinkan anak! (Sambungan)
Artikel Periode: 17/11/08 - 22/11/08
Banyak orangtua 'gugup' mendisiplinkan anak!
Artikel Periode: 09/11/08 - 14/11/08
Tukang Siomay Langganan Saya
Artikel Periode: 03/11/08 - 08/11/08
Duka Anak Sulung
Artikel Periode: 27/10/08 - 01/11/08
'Menerima apa adanya' bukan kalimat mati!
Artikel Periode: 20-25/10/2008
Hindari bahaya lagu negatif
Bola-bola yang telah membantu merubah Pola Pikir
Artikel: 01/12/08 - 06/12/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Dasar bola! Kenapa harus begini sih bentuknya? Teriak seorang anak kesal karena berkali-kali usahanya belum berhasil memasukkan bola ke dalam wadah yang diharuskan. Ayo, lebih sabar lagi! Suara pelatih terdengar memberi dorongan. Ini kan susah, coach, benar-benar susah. Sudah bentuknya bulat, wadahnya juga jauh! Sahut anak itu. Bahkan tidak berapa lama kemudian anak yang lain melempar kasar bola-bola yang ada di sekitarnya, Susah, coach! Ini bener-bener susah! seorang murid lain juga mengadu kesal. Permainan yang diberikan sebenarnya sederhana dan bersifat pengulangan saja, tetapi bukannya semakin tekun, pribadi-pribadi itu semakin memperlihatkan watak aslinya di dalam menyelesaikan masalah.
Aku sudah nggak mau main lagi! Seru seorang anak perempuan terduduk lemas di lantai, keringat membasahi dahinya. Nggak seru! Nyebelin! Bikin capek. Aku bisa bodoh lemparin bola-bola kayak gitu! Lanjutnya lagi. Perkataannya ditimpali lagi oleh teman-teman lainnya yang juga ingin menyerah. Namun ada pemandangan lain juga bahwa ada 2 orang anak masih berusaha tenang dan fokus pada permainan itu sementara yang lainnya mulai memaki atau malah menyerah. Mereka terlihat tenang dan gigih. Memang tidak berarti semua bola-bola mereka berhasil masuk ke dalam wadah, tapi paling tidak ada 1 atau 2 dari puluhan bola mereka berhasil masuk ke wadah dibandingkan teman-teman yang lain yang benar-benar sudah menyerah dan hanya berkeluh kesah.
Tuh lihat, Indah (bukan nama sebenarnya) bisa kan memasukkan bola dengan tenang. Sudah 2 bola di wadahnya. Yuk, usaha lagi! Kamu juga bisa kok. Ujar pelatih memberikan semangat kepada murid-murid lain yang telah terduduk di lantai. Nggak mau ah, coach! Indah sih memang anak pintar, dia memang selalu menang kok, coach! Saya sih nggak pintar kayak indah. Sahutnya. Lagian, kenapa sih dikasih permainan yang susah-susah kayak begini? Nggak jelas tujuannya!!! Sambung seorang anak yang lain menimpali percakapan pelatih yang sedang mencoba memberi semangat. Dalih-dalih yang mereka berikan sangatlah jauh dari masuk akal, mereka hanya mencoba memperburuk keadaan dengan kata-kata sinis untuk membenarkan sikap protes mereka.
Hhhmm... OK-lah, kalau memang kamu mau yang lebih mudah, coach kasih yang lebih mudah! Jawab si pelatih. Tidak berapa lama kemudian si pelatih membawa wadah dan pensil ke depan anak-anak yang sedang berkeluh-kesah itu, jarak wadah itu sangat dekat, hanya 30cm saja di depan anak. Nah! Sekarang, masukkan pensil ini ke dalam wadah! Lanjut pelatih... Anak yang disuruh itu mematuhinya, ia segera memasukkan pensil ke dalam wadah. Setelah 1 pensil masuk ke dalam wadah, si pelatih memberikan beberapa pensil lagi kepada sang anak... Ini ngapain sih, coach? Kok kayak orang bodoh begini? Masuk-masukin pensil begini? Tanya anak itu, sementara teman-temannya yang lain juga menertawakan perihal lucu itu.
Nah! Itulah, diberikan permainan menantang, kamu mengeluh; diberikan permainan mudah, kamu juga tidak suka. Bukan permainannya yang sulit atau mudah, tetapi sikap dan cara pikirmu saja yang membuat segala sesuatunya menjadi tidak menarik.
Coach, aku berhasil memasukkan 5 bola dari 40 bola. Sahut Indah memotong pembicaraan kami. Kali ini Indah berkeringat begitu lepeknya, tapi dia tersenyum bangga. Sekali lagi ya, coach? lanjut Indah masih bersemangat. Ah! Orang cuma masuk 5 bola aja, belum masuk semuanya, ge-er banget sih! Celetuk anak laki-laki lain tampak sudah tidak bersemangat melanjutkan permainan. Akhirnya, kembali pelatih menyuruh anak-anak melakukan 1x permainan lagi, kali ini Indah hanya berhasil memasukkan 3 bola, Tadi beberapa kali lemparanku terlalu tinggi, coach. Harusnya aku menambah tenaga juga supaya bolanya sampai ke sana. Celoteh Indah mengomentari hasil permainannya sendiri, dia tampak tidak putus asa, malah mampu mengoreksi hasil permainannya. Luar biasa!!! Sementara seorang anak-anak laki lain berhasil memasukkan 1 bola, ia adalah anak laki-laki yang sempat melempar kasar bola-bolanya. Nah! Itu kan, kamu bisa memasukkan 1 bola, bagus kan? Komentar pelatih. Ah! Cuma 1 bola aja, itu juga kebetulan kok, apanya yang bagus? Sahut anak laki-laki itu sinis. Mengetahui pola pikir anak yang pesimis itu, pelatih bertugas untuk terus memberikan masukan yang baik, tidak di dalam bentuk perdebatan atau ceramah nasihat, tetapi seringnya di dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan yang dapat dengan mudah dimengerti.
Para pelatih kami berhutang besar dengan bola-bola yang digunakan di dalam permainan-permainan pada aktivitas kelas kami. Bola-bola yang berbentuk bulat itu memang semakin tidak bisa terkendali jika dilempar oleh murid-murid yang tidak menghargai perjuangan dan proses. Arah lemparan dari pola pikir yang meledak-ledak semakin kacau saja dan semakin memperburuk suasana hati. Tetapi dengan semakin terlihat apa yang menjadi kelemahan-kelemahan pola pikir seorang individu, bola-bola itu telah berhasil memberikan kami bahan pelatihan. Untuk anak-anak yang sangat pesimis, pelatih perlu menempuh proses panjang untuk pembentukkan percaya diri sang anak, kalimat-kalimat negatifnya senantiasa harus kami berikan antinya.
Ada banyak hal yang tidak bisa kita ubah di dalam hidup ini, sama seperti bola-bola itu yang dibuat bulat adanya. Yang harus kita ubah bukan bentuk bola-bola itu namun cara kita menguasai diri dengan baik, membidik sasaran dan melakukan tindakan dengan gigih, menghargai hasil-hasil kecil yang semakin membawa ke arah keberhasilan yang membaik. Bola-bola itu akan tetap bulat, akan tetap tidak bisa diatur oleh pribadi-pribadi yang tidak mau berusaha fokus dan berlatih tapi akan tampak sangat terkendali bila berada di tangan pribadi-pribadi yang mau berlatih menguasai diri mereka terlebih dahulu dan terus memotivasi diri mereka sendiri untuk berusaha lebih baik walaupun jatuh-bangun akan selalu menjadi bagian dari proses yang tetap harus dilewati.
Proses Memperbaiki memang Tidak Menyenangkan
Artikel: 01/12/08 - 06/12/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Seorang bapak bertanya kepada saya tentang bagaimana ia dapat memperbaiki hubungannya dengan dua orang anak remajanya. Saya sadar benar saya bukan ayah yang baik, saya memang terlalu sering marah-marah. Anak-anak saya tidak ada yang dekat dengan saya. Belakangan ini saya sudah berusaha untuk dekat dengan mereka, tetapi tanggapan anak-anak saya cenderung dingin bahkan seringnya saya menjadi marah mendengar celetukan-celetukan anak saya, seperti, ayah sok baik, apa benar ayah sudah mau mendengarkan kita, biasanya juga nggak mau kok, sekarang kenapa jadi mau... Nah! Kalau sudah mendengar celetukan-celetukan mereka itu, saya biasanya jadi marah. Niat saya berdamai dengan mereka menjadi batal, saya berpikir anak-anak saya memang sudah tidak bisa diatur, mereka menjadi makin keterlaluan. Itulah mengapa sering percakapan saya dengan anak-anak saya menjadi tidak berguna. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi, tapi saya sedih melihat anak-anak saya jauh dari saya. Itulah uraian seorang ayah di dalam seminar saya. Sementara ia mengungkapkan pendapatnya, sang istri yang duduk di sampingnya terlihat lebih pasrah.
Pertama-tama memang kita harus mengetahui bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tetapi bila masih ada kemauan untuk memperbaiki, itu adalah esensi dari memenangkan suatu perjuangan di bidang apapun baik keluarga ataupun bisnis. Kepada bapak itu saya mengatakan 2 hal yang jujur:
Proses membesarkan anak-anak memang agak kompleks, tetapi selalu harus kita syukuri, karena ini adalah tugas yang sangat mulia. Kita tidak bisa terlalu dekat, dimana anak-anak tidak punya ruang untuk berpikir dan menjadi manja; tetapi kita tidak bisa terlalu jauh, dimana anak-anak merasa tidak terlalu membutuhkan orangtuanya lagi.
Pada kasus bapak tadi, saya memberikan gambaran tentang hubungannya dengan kedua anaknya; selama ini ia telah berjalan turun dan semakin turun, jika ia ingin memperbaiki dalam waktu yang singkat, maka akan diperlukan energi yang luar biasa untuk segera bergerak naik. Di dalam contoh yang diberikannya tadi, ketika anak-anaknya memberikan celetukan-celetukan yang kasar; ia harus benar-benar mempunyai cukup energi untuk mampu mengendalikan dirinya untuk tidak marah-marah. Melihat bahwa bapak itu sebenarnya adalah seseorang yang memang tergolong cepat marah, saya sangat tidak menyarankan ia berdamai dengan cara yang tidak terlalu terburu-buru, toh! Sudah terbukti, usahanya membuatnya hampir putus asa; bagaimanapun tidak mungkin suatu hubungan yang sudah lama terlukai bisa segera sembuh dalam satu atau dua hari saja.

Saya menyarankan agar bapak itu lebih sabar mengikuti proses damai itu. Jalan satu-satunya yang terbaik adalah mendapatkan kembali kepercayaan dari anak-anak tersebut. Saya meminta agar bapak itu membuat janji pergi bersama dengan anak-anak dan memenuhinya; jika anak-anak mengeluarkan celetukan-celetukan, ia harus mengerti bahwa itulah luapan-luapan kemarahan anak-anak yang sedari dulu sering diabaikannya atau dijauhinya. Bila ia benar-benar ingin memperbaiki keadaan tersebut ia harus menerima proses itu. Saya pun menyarankan agar ia mengucapkan kata-kata maaf... Tapi saya sudah beberapa kali mengucapkan maaf, anak-anak sepertinya tidak mau menerimanya. Sahut bapak itu.
Saya bertanya, Ketika anak-anak nyeletuk ayah sok baik apa yang anda lakukan? Sejenak dia terdiam, lalu menjawab, saya tidak senang anak-anak menjawab seperti itu, karena itu tidak sopan. Saya melanjutkan, inilah proses berjalan naik yang harus bapak lakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari anak-anak, pada saat mereka berkata ayah sok baik, sebaiknyalah bapak fokus untuk menyelesaikan masalah, jangan dulu memikirkan tentang sopan atau tidak sopan. Saat itulah bapak perlu mengucapkan maafkan ayah, nak, ayah benar-benar akan melakukan janji ayah, karena ayah sayang pada kalian, tidak usah menerangkan atau mencari alasan yang membenarkan bahwa bapak tidak sedang bersikap sok baik, karena apapun yang bapak ucapkan saat itu, mereka tidak akan percaya, hal itu harus dilihat dan dibuktikan oleh anak-anak terlebih dahulu, barulah mereka bisa percaya, dan itu perlu waktu.
Kalau mereka berjalan meninggalkan saya saat saya bicara? Saya harus bagaimana? Itu kan tidak sopan? Tanya bapak itu lagi. Saya menjawab, semua proses berjalan naik memang memakan energi, apalagi proses memperbaiki, memang luar biasa tidak menyenangkan karena jalannya lebih curam lagi. Tetapi jika kita ingin berhasil, kita perlu fokus untuk berhasil. Masalah sopan atau tidak sopan sudah tidak berlaku lagi bagi pribadi-pribadi yang marah. Bapak perlu membuktikan ucapan-ucapan bapak, memenuhi janji-janji bapak, menambah waktu untuk dekat dengan anak-anak, mendengarkan curahan hati anak-anak. Soal sopan atau tidak sopan dapat dibenahi pada saat bapak sudah merebut hati mereka. Jawab saya.
Beberapa minggu berselang, anak-anak bapak itu mengikuti pelatihan saya selama 1 hari, mereka terlihat sangat riang, jauh dari gambaran yang diterangkan oleh ayah mereka di dalam seminar saya. Waktu ayah dan ibu pulang dari seminar dulu, ayah jadi baik sekali. Kata salah satu dari mereka. Saya tidak pernah tahu apa yang terjadi di rumah mereka, tetapi saya yakin, sang ayah telah mengambil jalan proses memperbaiki yang tidak menyenangkan, walau tidak menyenangkan, ia telah berhasil.
Banyak orangtua gugup mendisiplinkan anak!
(sambungan)
Artikel: 25/11/08 - 29/11/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Kenyataannya, kekerasan terhadap anak lebih sering diangkat sebagai berita namun di lain pihak memanjakan anak terlalu berlebihan tidak pernah akan menjadi berita. Padahal akibat dari terlalu memanjakan anak sebenarnya sangat parah dan bersifat jangka panjang. Pribadi-pribadi rapuh anak manja sering memiliki hidup yang tidak beraturan, selalu mengeluh, emosi tidak terkontrol dan banyak yang terjerumus dalam tindakan-tindakan negatif mulai seks bebas dan narkoba sampai korupsi dan kejahatan fisik karena mereka tidak pernah diijinkan untuk melewati jalan yang lebih sulit atau masa-masa yang tidak menyenangkan sebagai proses berjuang menuju kedewasaan, maka yang mereka ambil justru jalan pintas untuk menghindari kerja keras dan susah payah.
Bagaimanapun, disiplin sangat penting untuk ditegakkan terhadap buah hati. Harus dimengerti dengan jelas bahwa disiplin bukanlah hukuman, disiplin yang dijalankan dengan benar justru merupakan bentuk kasih yang sesungguhnya terhadap anak.
Berikut adalah beberapa tips tentang menegakkan disiplin pada buah hati anda:
1. Fokus pada masalah. Saat anda akan marah pada anak atau merasa perlu mendisiplinkannya; sebelum anda mengeluarkan kata-kata yang pertama, secara singkat tanyakan pada diri anda sendiri, anda akan marah karena anak benar-benar melakukan kesalahan? Atau karena anda sendiri sedang bermasalah? Sebagai contoh, jika anda pulang dari kantor dalam keadaan lelah dan mendapatkan mainan anak anda berantakan, sebaiknya anda masuk kamar dulu menenangkan diri. 15 menit kemudian jika anda sudah lebih tenang, barulah anda keluar dan meminta anak memberesi mainannya atau menegurnya jika ternyata ia telah melanggar kesepakatan untuk merapikan kembali mainannya.
Hal ini perlu anda latih lebih sering. Bedakan antara anda hanya ingin melampiaskan kemarahan karena sesuatu telah membuat anda kesal dengan keinginan sesungguhnya untuk mendidik anak. Selama proses anda menegur, anda hanya perlu mengingat apakah yang akan terjadi pada masa depan anak anda jika ia selalu bertindak ceroboh demikian atau jika anda tidak mendisiplinkannya saat ini; hindari penambahan kata-kata manipulatif seperti, ngerti nggak sih kalau mama capek harus beresin mainan kamu melulu? atau kamu kok selalu senang bikin papa marah. Ingatlah, pola tegur yang melibatkan sentimen pribadi seperti itu sangat tidak efektif, seringnya anda akan terjebak semakin marah lagi. Pada saat dimarahi, anak lebih sering ingin membalas balik, sehingga anda akan semakin bertambah marah jika ternyata anak mungkin menjawab, biarin! sebagai jawabannya tanda tak peduli dengan perasaan anda. Hindari juga memberi tagging pada anak, seperti, kamu jadi orang kok malas sekali? atau kamu bodoh atau bagaimana sih, dikasih tahu berkali-kali kok tidak mau mendengar! Tagging hanya akan memperbanyak kata-kata negatif masuk ke dalam pikiran anak yang semakin lama hanya akan semakin dipercayanya. Hal ini akan semakin rumit. Seorang anak di kelas liburan kami benar-benar tidak bisa diam dan tidak mau diatur; setelah beberapa kali saya mengatakan, sayang, coach tahu kamu anak baik yang bisa duduk tenang! Ia menjawab sinis, bukan! Mama bilang aku anak nakal! Saya harus menyanggahnya, coach tahu kamu anak baik yang mau belajar duduk tenang! Di dalam beberapa kali pertemuan, berulang kali saya perlu mengulang bahwa ia adalah anak yang baik berikut dengan alasannya. Pada akhirnya, saya berbesar hati melihat ia benarlah dapat duduk dengan tenang.
2. Disiplin sampai tuntas. Banyak orangtua yang rajin berteriak-teriak, tapi sebenarnya lembek dengan anak. Sebagai contoh, sang ibu meminta anak membereskan kamarnya, tetapi sang anak tidak peduli, lalu ibu itu kembali berteriak, awalnya anaknya masih bergerak dan membenahi beberapa pakaiannya yang terserak di lantai, tetapi setelah tidak mendengar teriakan ibunya, ia kembali membaca buku. Tidak berapa lama kemudian ibu itu berteriak lagi, bisa dibayangkan ini akan menjadi suatu kekesalan yang menumpuk. Dalam jangka panjang pun anak tidak akan belajar menghargai suatu peraturan. Jika anda ingin sesuatu dikerjakan oleh anak, anda perlu memeriksanya dengan tuntas. Anda bisa meminta dan mengatakan bahwa jika anda kembali, pekerjaan itu harus sudah selesai, jika tidak Maka andapun perlu siap memberikan konsekuensi pada anak, misalnya, waktu menonton TV-nya atau waktu bermain games-nya dikurangi.
Perihal memberikan macam-macam hukuman/konsekuensi ini juga akan saya bahas secara khusus di artikel saya di lain waktu. Saat ini, kita perlu fokus dengan penerapan suatu disiplin secara teratur dan tegas tanpa ragu-ragu dan yakinlah, jika diterapkan dengan benar tidak akan meninggalkan trauma namun justru anda akan mendapatkan seorang anak yang mau bekerjasama dengan anda.
3. Biasakan menggunakan kalimat-kalimat jelas dan pendek, tidak perlu bertele-tele, tetapi tegas. Papa minta sekarang juga matikan TV dan bereskan kamar! Jika anak anda di ruang TV, jangan biasakan anda berteriak dari ruang lain. Saat anda sudah harus menjalankan suatu disiplin, berikan perintah yang jelas itu langsung di hadapan anak dan anda benar-benar harus melihat bahwa perintah anda segera dikerjakan. Jika anda tidak bisa menunggui, maka berikan kurun waktu tertentu, lalu periksalah apakah yang anda minta telah dikerjakan oleh anak.
4. Buatlah jadwal ataupun aturan yang jelas. Hal ini terlalu sering diabaikan oleh banyak keluarga. Perintah-perintah yang datang dari orangtua biasanya hanya untuk membentuk suatu kebiasaan, tetapi anak jarang diberitahukan untuk apa suatu kebiasaan perlu dijalankan. Jika keluarga anda membuat jadwal, seperti siapa yang bertugas mencuci piring setelah makan (sekalipun jika anda memiliki pembantu rumah tangga), atau kapan si kakak dan adik harus membenahi kamar; maka anak-anak anda dapat melihat gambaran besarnya bahwa apa yang harus ia lakukan memang ada tujuannya dan ditetapkan dengan gembira, tidak hanya menjadi bebannya seorang diri saja, tetapi merupakan kewajiban semua orang dimana ia melihat bahwa semua orang punya kewajiban yang sama. Seorang bapak, peserta seminar saya, merasa hal membuat jadwal adalah sia-sia, karena ia telah mencobanya tetapi tidak berhasil. Setelah saya tanyakan lebih jauh, ternyata jadwal itu hanya diperuntukkan bagi anak-anak saja, sedangkan orangtua tidak dikenakan tugas dengan alasan papa dan mama musti kerja. Dalam porsi ini, anak belum mengerti betapa beratnya tanggung jawab papa-mama harus bekerja; anak hanya melihat bahwa papa-mama tidak diwajibkan melakukan pekerjaan rumah sementara ia harus melakukan sesuatu, di matanya ini tidak adil. Bagaimanapun, anda harus mengambil tanggung jawab agar anak mempunyai contoh dan merasa adil.
5. Jangan di-nego. Jika anda meminta anak anda melakukan sesuatu, jangan biarkan anak anda me-nego-nya (kecuali jika ia sedang benar-benar sakit). Tetapi anak memang selalu memberikan alasan untuk menghindari kewajibannya; bagaimanapun, anda harus tetap fokus agar anak menyelesaikan apa yang harus dikerjakannya. Jika anda membiarkan anak me-nego anda, maka anak menjadi mengerti sekali bahwa anda adalah orangtua yang tidak tegas.
6. Kebiasaan yang baik. Ada seorang ayah yang merasa kewalahan meminta anaknya untuk belajar. Sudah banyak yang ia lakukan untuk membuat anaknya belajar, sampai memberikan imbalah dan hukuman, tetapi anaknya tetap saja tidak mau belajar. Belakangan saya ketahui bahwa pada saat anaknya harus belajar, itulah jam orangtua menonton TV bersama adik kecilnya. Hal ini menimbulkan keirian pada anak sulung itu. Saya menyarankan, pada saat jam belajar anak, sebaiknya orangtua pun melakukan kesibukan membaca, toh! Sekalian untuk menambah wawasan, tidak ada salahnya. Ini adalah teladan yang baik dimana anak tidak merasa dibiarkan harus berjuang sendiri.
7. Jalankan konsekuensi sampai tuntas. Banyak orangtua yang menjalankan konsekuensi secara setengah-setengah. Kasus seperti ini, sungguh banyak sekali terjadi. Seorang ibu yang saya kenal berkata kepada anaknya yang berusia 8 tahun, kamu harus melakukan pendinginan 10 menit. Anak itu patuh dan memasang raut muka yang sedih. Melihat raut muka yang sedih itu, baru masuk pendinginan ke menit yang ke-empat, sang ibu berkata, kakak kan harusnya tahu, kalau kakak tidak bisa dibilangi, pasti mama marah, lain kali jangan begitu ya? Tentu saja anaknya mengangguk cepat dan seketika itu juga ia terbebas dari hukuman. Saya melihat jangka panjang perilaku anak tersebut sangat tidak teratur dan cenderung mengulangi kesalahan-kesalahannya baik disengaja ataupun tidak. Lebih parahnya lagi, orangtuanya pun tetap saja melakukan kesalahan yang sama dengan alasan tidak tega. Jika kita tidak tega pada anak, kenyataan yang menyedihkan yang akan terjadi adalah suatu saat nanti akan ada seseorang yang tega pada anak kita. Itulah mengapa sangat penting kita memberikan disiplin yang baik.
8. Disiplin dan kasih. Jika anda berhasil menjalankan disiplin dengan baik, masih ada celah bagi anak untuk berperilaku tidak baik, karena jika anda hanya memberikan perintah dan pendisiplinan semata maka lama kelamaan hubungan anda dengan si buah hati tanpa terasa akan semakin jauh dan jangan terkejut jika anda tiba-tiba sulit menjangkaunya dan ia berubah menjadi pribadi yang pemberang atau sulit diajak bicara. Saya sangat menyarankan agar anda bersenda gurau dengan anak-anak anda di waktu-waktu luang. Anda bisa mencolek pinggangnya, mengelus kepalanya, menggelitiknya ataupun memainkan permainan yang asyik bersama bahkan mungkin sampai terguling di lantai atau di tempat tidur, sediakan waktu juga untuk mendengarkan curahan hatinya tanpa menghakimi. Disiplin dan kasih yang seimbang adalah fondasi keluarga yang kuat. Semoga anda dapat menegakkannya di rumah anda! Saya yakin anda segera mewujudkannya.
Banyak orangtua 'gugup' mendisiplinkan anak!
Artikel: 17/11/08 - 22/11/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Topik ini saya angkat karena banyaknya kenyataan bahwa belakangan ini para orangtua merasa gugup ketika mendisiplinkan anak. Saya memakai kata gugup, karena nyatanya pada saat proses mendisiplinkan anak, orangtua bukannya fokus pada penyelesaian masalah tetapi sering sibuk bertanya-jawab dengan dirinya sendiri, benarkah cara saya ini? Bagaimana kalau nanti anak saya besar menjadi trauma? Bagaimana kalau ia besar nanti dendam kepada saya?
Saya sangat kaget dengan kenyataan betapa banyak orangtua termasuk lembaga pendidikan yang belakangan ini sudah menjadi lembek dalam mendisiplinkan anak karena takut dianggap membunuh kreativitas anak. Kenyataan yang sudah begitu sering dirasakan oleh banyak orangtua jaman sekarang, anak-anak tumbuh menjadi seperti kurang ajar. Maaf saya memilih kata-kata yang agak kuat, tetapi kata-kata itu justru sering dipakai oleh orangtua menggambarkan kebanyakan anak-anak jaman sekarang. Mereka sering mendebat perintah dan arahan orangtua, bicara dengan nada yang lebih tinggi dan seenaknya pada orangtua, bertata-bahasa kacau pada koresponden elektronik seperti SMS atau e-mail.
Tayangan-tayangan TV tentang kekerasan terhadap anak baik secara nyata ataupun sinetron memang telah mengaburkan arti mendisiplinkan seorang pribadi, pribadi anak khususnya. Pada topik kali ini, saya justru ingin mengembalikan pentingnya esensi menegakkan disiplin bagi sebuah masa depan anak, tentunya yang baik dan benar.
Hampir di setiap seminar saya akan ada orangtua yang bertanya, Ibu Yacinta, apakah salah jika saya mendisiplinkan anak saya? Seorang ibu, peserta seminar saya lainnya bahkan mendebat dengan pernyataan, Jika kita memberi hukuman, maka itu akan berakibat buruk terhadap pertumbuhan emosi anak! Iya kan, bu? Tanya sang ibu, walau ibu itu memberikan pernyataan dengan nada keras tetapi di dalam nada itu sebenarnya juga ada kebingungan. Kebetulan sekali putri ibu itu adalah murid saya yang berparas lucu dan lincah, namun seseorang yang sulit diatur di dalam kelas.
Ketika mengingat bahwa justru putri si ibu yang bertanya itu memang seorang anak yang sering keluar dari meja belajarnya, tim kami sudah mengerti bahwa ia adalah seorang pribadi yang justru kurang diberikan disiplin yang baik di rumah. Terhadap pernyataan ibu itu saya menjawab secara terang-terangan, Hukuman dengan porsi yang pas, sangat diperlukan justru untuk pembentukkan pribadi anak yang kuat. Pertumbuhan emosi anak akan sangat mengalami gangguan justru jika tidak ada suatu kedisiplinan yang jelas. Memang masalahnya, porsi pas yang bagaimana yang dapat diterapkan. Jawab saya kemudian.
Metode pendidikan anak memang mempunyai 2 jaman yang sangat berbeda. Sampai pada tahun 1960-an, para orangtua memang cenderung menggunakan sistim pendisiplinan bak militer yang kerap kali menggunakan kekerasan kepada anak. Lalu tahun 1970-an, dengan begitu banyaknya penelitian tentang mengembangkan kecerdasan anak, mulailah lahir teori-teori yang memajukan konsep pendidikan yang lebih lunak. Tidak dapat disalahkan juga mengapa teori-teori yang lebih lunak ini muncul, karena saat itu, bahkan sampai sekarang ada saja trauma-trauma pribadi anak hasil dari pola didik yang keras yang dianggap sebagai penghambat atau pengganggu kecerdasan anak atau menyebabkan anak terganggu secara mental.
Ayah, ibu, para oom dan tante saya sering bercerita tentang bagaimana kerasnya sekolah-sekolah mereka dulu. Kebanyakan dari handai taulan saya itu mengecap pendidikan di sekolah-sekolah Belanda di Sulawesi Utara. Ayah saya dengan bangga berkata, Angkatan papa di SMA dulu, semuanya sekarang jadi 'orang' loh! Dulu itu, beberapa murid akan antri di depan kantor Kepala Sekolah jika mendapat nilai merah di rapot. Mereka akan menerima 1x pukulan rotan untuk 1 angka merah. Belum lagi, tebal tipis rotan juga berbeda, jika angka 4 jenis rotannya berbeda dengan angka 5. Wah! Pokoknya, gara-gara tidak mau dapat angka merah, para murid akan belajar benar-benar. Papa saya yang waktu kecilnya harus menjual nanas pagi-pagi ke pasar terlebih dahulu sebelum ke sekolah, harus mampu mengatur waktu belajar agar akhir tahun ajaran tidak harus antri di depan kantor Kepala Sekolah.
Saya dan suami kebetulan membaca kisah Adam Khoo, seorang muda yang sukses, berasal dari Singapura yang mendapat kekayaan US$1 juta pertamanya pada usia 26 tahun. Waktu ia masih bersekolah, ia kesal sekali dengan cara didik ayahnya yang dianggapnya pelit. Walaupun ayah dan kakak-beradik saudara ayahnya itu kaya dan sering membicarakan keluar-masuk uang dalam jumlah besar, tetapi ayahnya itu sangat disiplin dalam memberikan uang kepada anaknya. Bahkan bila ia memberi uang 2 dollar dan tahu bahwa harga barang yang dibeli 1,5 dollar, maka sang ayah tidak segan untuk meminta 50 sen kembaliannya. Dengan keadaan uang yang selalu pas-pasan di tangan, Khoo akhirnya memulai karir amatirnya dari SMP; ia mulai sebagai tukang sulap amatir yang bermain di ulangtahun-ulangtahun atau pesta-pesta kecil dan terus pola pikirnya semakin berkembang secara mahir untuk berusaha mendapatkan uang bagi dirinya sendiri.
Membaca kisah Khoo, suami saya tersenyum dan mengancungkan tangannya tanda sangat setuju dengan pola didik ayah Adam Khoo tersebut, sedangkan saya? Sebagai pendidik yang selalu berkecimpung dengan anak didik, saya perlu melihat karakter anak. Tidak semua anak mempunyai karakter yang kuat seperti Khoo. Ada juga anak berkarakter lemah, yang jika tidak dibimbing dan diberi pengertian, didikan keras akan menyebabkan anak itu stress ataupun trauma. Namun saya juga tahu bahwa cukup banyak anak-anak berkarakter kuat yang seharusnya juga mampu berkembang baik melalui bentuk terapan disiplin orangtua.
Bagaimanapun juga, sebagai orangtua, kita wajib mendisiplinkan anak-anak kita. Jika kita tidak mendisiplinkan anak kita sekarang, maka anak kita akan didisiplinkan orang juga cepat atau lambat, termasuk sampai harus masuk penjara karena mungkin sang anak terlibat pada kejahatan yang sedari awal tidak pernah kita larang.
Artikel saya ini belum selesai... Minggu depan akan saya berikan tips dan trik untuk mendisiplinkan anak dengan kasih. Ulasan yang pertama ini untuk memberikan para pembaca gambaran perlunya suatu disiplin ditegakkan, tetapi jangan sampai disalah pahami.
(bersambung)
Tukang Siomay Langganan Saya
Artikel: 09/11/08 - 14/11/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Tahun 1980-an, usia saya sekitar 9 tahun, saya dan keluarga baru pindah ke Jakarta. Di daerah saya itu belum terlalu banyak rumah, masih cukup banyak lahan kosong di sekitarnya, namun cukup banyak para penjual keliling lalu lalang di daerah itu. Dari penjual balon yang berjalan kaki, penjual kembang tahu pikul, penjual mainan anak pikul, penjual bakso, nasi goreng gerobak dan masih banyak lagi macam penjual yang setiap hari melintas. Kemudian adalah penjual makanan baru bersepeda yang ternyata menjual siomay. Pada waktu itu, siomay bukan suatu jajanan yang lazim; pembeli menyukainya, saya yakin bukan karena rasanya yang terlalu enak, tetapi dibandingkan jajanan rujak, bakso, es tung tung yang sudah akrab dikenal, maka siomay memang menjadi suatu jajanan unik yang dinantikan.
Pada awalnya hanya ada seorang tukang siomay yang lewat di daerah saya, itu pun agak jarang ia muncul, kalaupun muncul, dagangannya sudah hampir habis. Kok, jarang sih lewat sini, Bang? Tanya saya waktu itu. Iya, sebab seringnya belum sampai ke sini, siomay yang abang bawa sudah laku, Neng. Sahutnya ramah. Tak berapa lama kemudian daerah kami itu akhirnya setiap hari dilintasi oleh tukang siomay yang ternyata telah berjumlah 3 orang, dengan demikian saya tidak harus meletakkan piring lagi di depan pintu menanti tukang siomay yang jarang datang. Frekwensi datangnya tukang siomay yang setiap hari telah membuat saya dapat membeli siomay di sore hari dan tetap hampir selalu mendapatkan pilihan siomay yang lengkap dan masih hangat karena tampaknya abang siomay ini memang langsung ke daerah kami. Wah! Kalau lengkap terus begini, kan asyik milihnya, bang! Kol dan tahu-nya masih ada. Kata saya. Iya neng, kalau sekarang, abang langsung kemari, temen abang dan adek abang sudah punya daerah masing-masing. Kalau kami ada yang sakit dan tidak bisa jualan, barulah kami berjualan ke daerah yang tidak ada penjualnya itu. Sahut si abang tetap semangat dan santun.
Tak berapa lama kemudian ayah saya dipindah-tugaskan dan kami pindah ke rumah dinas baru, lalu kami sempat pindah ke luar negri lalu kembali ke tanah air, lalu pindah lagi ke rumah kami yang lama; waktu terus berlalu.
Siomay, Neng Sapa si tukang siomay, waktu itu tahun 1992. Tadinya saya hanya duduk-duduk santai saja di teras rumah, tidak berniat untuk jajan apapun. Tetapi melihat bahwa suara tadi berasal dari abang yang sudah 10 tahun-an tidak saya lihat, saya jadi ingin bernostalgia lagi dengan rasa siomaynya yang sudah hampir saya lupa.
Wah! Apa kabar, Bang? Sapa saya. Baek, Neng. Gini-gini ajalah. Sahutnya ramah sambil mulai mengiris siomay. Adeknya masih jualan siomay, Bang? Tanya saya yang mendadak teringat bahwa penjual siomay dulu ada 3 orang. Adek saya sudah pulang ke kampung, Neng, sudah lama kok, dapat jodohnya orang sana, lagian dia nggak betah di Jakarta. Sahutnya lagi. Terus, si abang yang satunya lagi kemana? Tanya saya. Wah! Dia sih udah enak tuh hidupnya. Jualannya bukan cuma siomay aja sekarang, sudah punya 3 gerobak bakso nyuruhin sodara-sodaranya dari kampung buat jualan. Udah enaklah dia hidupnya, Neng. Rumahnya di kampung ada 4, kambingnya banyak, punya sapi sama ternak ayam Kemarin itu malah baru beliin keponakannya sepeda motor. Seloroh si abang. Wah! Hebat bener yah! Celetuk saya.
Dia sih orangnya berani, Neng. Dia mau nyari tempat mangkal. Dulu saya juga diajak mangkal sih di pinggir lapangan bola itu, tapi, saya sih maleslah Neng, suka ada Kamtib, nggak tenang kita jualan, belum lagi suka ada preman. Jadi saya milih keliling aja. Temen saya itu sih orangnya berani dan mujur juga. Kalau saya jualan satu panci aja susah, dia bisa jualan dua atau tiga panci sehari loh, Neng. Kata si abang. Di tahun 90-an itu, hanya satu kali itu saja saya membeli siomaynya karena saya harus meneruskan study saya ke negri paman Sam. Pulang study, saya bekerja lalu menikah dan pindah rumah mengikuti suami saya. Ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya untuk merintis usaha baru, barulah saya bisa bermain ke rumah orangtua saya pada saat hari masih terang.
Siomay-nya, Nya Sapa tukang siomay sore hari itu. Hampir tidak percaya rasanya, di tahun 2005 saya masih melihat tukang siomay yang sama, masih dengan antusiasme dan keramahan yang sama, namun gurat dan garis penuaan wajahnya sudah sangat nampak, sepeda dan pancinya sudah terlihat lebih dekil. Saya pun sudah tidak disapanya dengan sebutan Neng tapi Nyonya. Walau sebenarnya saya sama sekali tidak ingin makan siomay, tetapi saya tidak sampai hati menolak tawaran si abang.
Apa kabar, Bang? Tanya saya. Si abang itu mengamat-amati saya, lalu berkata, Eh! Ini si eneng yang dulu yah? Tanyanya. Sapaan nyonya sekarang sudah kembali lagi menjadi neng, saya cukup senang, karena berarti ia mengingat sosok saya yang lebih akrab, bukan sebagai orang asing baru. Kok sudah lama nggak kelihatan, Neng? Kemana aja? Tanyanya lagi. Saya tidak tinggal di sini lagi sekarang, Bang, ini lagi main di rumah orangtua aja. Jawab saya. Si abang mengangkat tutup pancinya, terlihat siomay-nya sudah tinggal sedikit, Wah! Sudah tinggal sedikit nih, Bang! Laku yah jualannya? Tanya saya. Waduh, Neng! Boro-boro laku. Sekarang-sekarang ini saya nggak berani bawa banyak-banyak, paling-paling setengah panci aja. Sekarang ini susah jualan, Neng! Kebanyakan temen-temen abang sih sudah tidak keliling, kalau yang masih muda-muda sih, maunya mangkal aja. Sahutnya dengan ramah, namun kali ini saya menangkap kalimat getirnya.
Sebenarnya saya turut prihatin dengan keadaan si abang siomay, tetapi itu adalah jalan hidup yang dipilihnya. 13 tahun yang lalu, temannya telah mengambil langkah yang berani dengan mangkal di pinggir lapangan bola; pada saat-saat inipun, para penjual siomay muda lebih memilih peluang mangkal daripada berkeliling, saya pikir bukan karena malas, tetapi jika keliling di perumahan, tingkat edukasi pembelinya cenderung sudah meningkat, mereka banyak memilih jajanan yang relatif lebih bersih. Tempat jajan di mal-mal dan hypermarket lebih menjadi pilihan ditambah dengan layanan-layanan delivery makanan cepat saji yang semakin marak, menambah ketatnya persaingan. Sementara jika harus berkeliling di gang-gang, daya beli pembeli pun tidaklah terlalu baik. Jadi, bisa dimengerti mengapa tukang jajanan lebih memilih mangkal di daerah sekitar perkantoran, di sana banyak pekerja yang mempunyai daya beli dan memilih jajanan hemat.
Abang siomay langganan saya itu adalah seseorang yang tidak pernah mau keluar dari zona nyamannya; saya yakin peluang mangkal masih tetap ada sampai sekarang, tetapi dia tidak mau meraihnya. Resiko ditangkap Kamtib ataupun dipalak preman tidak mau diambilnya, padahal mungkin itu hanya ketakutannya yang terlalu berlebihan saja. Resiko itu memang ada, tetapi jika dijalani, pastilah tidak sebegitu menakutkan. Buktinya, temannya telah lebih dulu berhasil, itu karena temannya lebih berani keluar dari zona nyaman karena mampu melihat peluang baru, penjual-penjual siomay muda lainnya pun berani mengambil resiko itu.
Sadarilah, di dunia yang penuh persaingan ini, tidak ada yang sifatnya tetap. Jika kita merasa sangat nyaman dengan keadaan kita sekarang dan tidak melakukan hal-hal baru, sebenarnyalah kita sedang mengalami penurunan. Anda nyaman dengan penghasilan anda yang sekarang? Ketahuilah bahwa beberapa tahun yang akan datang, penghasilan anda sekarang ini tidak akan mencukupi beberapa kebutuhan di masa yang akan datang yang tidak semakin sedikit. Jika anda tidak melakukan perubahan, maka ada kebutuhan di masa yang akan datang yang tidak dapat anda penuhi atau harus anda korbankan.
Keluarlah dari zona nyaman anda! Justru untuk menyelamatkan diri dan masa depan anda. Jika anda seorang pekerja, mulailah dengan mempelajari hal-hal baru, belajarlah mau menerima tanggung jawab di luar tugas rutin anda, bacalah lebih banyak buku orang-orang sukses dibandingkan memenuhi pikiran anda dengan berita-berita gosip yang tidak penting. Ingatlah! Tidak ada kata terlambat. Bahkan untuk abang tukang siomay langganan saya itu, bila hari ini ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang baru, ia masih memiliki kemungkinan untuk berhasil. Sejujurnya, saya sedih membayangkan jika ia harus menjadi seorang pemulung ataupun pengemis saat ia sudah tidak sanggup lagi mengayuh sepedanya kelak atau jika sudah sangat minim jumlah pembeli siomaynya. Ia bukan korban jaman ataupun korban keadaan perekonomian, ia hanya seseorang yang sulit melepas comfort zone-nya. Saya doakan agar ia lebih berani mengambil keputusan yang berbeda agar hilang kalimat-kalimat getirnya. Demikian juga anda Keluarlah dari zona nyaman anda! Change Now!
Duka Anak Sulung
Artikel: 03/11/08 - 08/11/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Artikel ini saya tulis khusus saya persembahkan untuk anak-anak sulung atau mereka yang terlahir sebagai anak tertua. Awalnya saya tidak terlalu merasa hal ini penting untuk dibahas, namun saya cukup terkejut bahwa di setiap seminar saya kesalahan pola didik terhadap si sulung ternyata berlaku hampir pada semua orangtua. Ada kecenderungan pada hampir semua orangtua untuk mendorong anak tertua menjadi teladan bagi adiknya. Hal ini tidak salah namun selalu cara yang dipakai hampir selalu kurang benar.
Saya heran sama anak saya yang nomor satu, masakan mainan adiknya dirampas dengan kasar. Ya, jelas adiknya nangis dong. Saya bilang sama dia, sebagai kakak kamu harusnya kasih contoh untuk berlaku baik dengan adikmu. Curhat seorang ibu kepada saya. Seorang bapak bercerita lain lagi, anak saya yang paling tua itu kan harusnya tahu, sebagai anak yang paling tua dia harus jadi teladan yang baik, dia harus bisa ngurusin adik-adiknya. Sudah saya bilang berkali-kali, tapi kok ya ndablek juga.
Coba kita bayangkan, seorang karyawan yang masuk terlebih dahulu daripada karyawan yang lainnya, apakah ia wajib menjadi contoh bagi karyawan yang masuk belakangan? Tentu saja tidak, di dalam dunia kerja semua orang hanya perlu menjalankan tugas masing-masing tanpa melihat senioritas. Yang paling senior tidak selalu berarti mempunyai pangkat atau kedudukan yang tinggi, tetap perlu dipertimbangkan tingkat kemampuan kerjanya.
Demikian juga dengan anak tertua, kenyataan bahwa ia terlahir sebagai anak yang paling tua, tidak berarti ia otomatis harus mampu menjaga adik-adiknya dan yang paling parah lagi harus menjadi teladan adik-adiknya. Anak tertua tidak pernah minta dilahirkan sebagai anak tertua, tetapi memang harus ada seseorang yang dilahirkan sebagai anak yang nomor satu.
Di seminar-seminar saya sering saya tanyakan, adakah anak-anak sulung di sini? Beberapa orangtua akan angkat tangan. Lucunya, sering, jumlah mereka cukup banyak. Lalu saya katakan, anak tertua sering terbentuk menjadi pribadi yang bingung. Setelah besar pun tampaknya ia dicengkeram kewajiban untuk bertanggung jawab pada adik-adiknya. Untuk anak tertua yang berkarakter kuat, biasanya mereka kehilangan banyak waktu senang dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan memikirkan hal-hal detail. Sedangkan untuk anak tertua yang berkarakter lebih lemah, biasanya mereka terlihat lebih pasrah, sering mati langkah dalam bertindak karena takut bahwa langkah yang akan diambilnya salah. Maka tak heran ia sering bertanya kepada orang di sekelilingnya untuk mendapat kepastian apakah benar tentang keputusan yang akan diambilnya. Banyak peserta seminar saya yang akan mengangguk-angguk, kemudian diikuti dengan gelak tawa, seolah mentertawakan kenyataan yang ada. Anak tertua sering mendapat salah satu dari tagging bawah sadar orangtua sebagai berikut: Tagging bahwa ia adalah beban, karena dilahirkan pada waktu sebuah rumah tangga masih dalam keadaan yang belum stabil secara ekonomi atau tagging bahwa ia adalah sumber kesedihan, karena ia dilahirkan pada masa ayah dan ibu sedang dalam masa penyesuaian. Biasanya tahun-tahun pertama pernikahan sangatlah rumit, dimana para pasangan seringnya masih dalam fase terkejut mendapati pasangannya ternyata tidak seperti yang diharapkannya.
Ada juga kasus-kasus bahwa awalnya anak tertua itu adalah sumber kebahagiaan, namun ketika adik-adiknya lahir, kebahagiaan itu tampak langsung hilang digantikan dengan kewajiban yang tidak jelas bagaimana harus dijalankan.
Kasus-kasus anak tertua memang berbeda-beda, tetapi dampaknya secara umum, saat ia sudah besar terlihat kurang lebih sama, yaitu mereka tumbuh sebagai pribadi yang lebih cepat panik. Dua hal yang akan saya kemukakan ini, saya harap bisa menjadi masukan bagi para orangtua untuk tetap mampu menjalankan pola didik yang adil pada anak tertua mereka agar mereka tumbuh sebagai pribadi yang sama mantapnya dengan anak-anak yang lain.
Menerima apa adanya bukan kalimat mati!
Artikel: 27/10/08 - 01/11/08
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Sepasang suami istri bertengkar di hadapan saya, padahal saya bukan seorang konsultan rumah tangga. Bermula mereka mengomentari kelakuan anak-anak mereka sampai akhirnya sang istri berkata, saya sendiri heran dengan suami saya ini, dari dulu juga dia sudah tahu bahwa saya memang doyan shopping dan ke salon, kenapa baru belakangan dia mengeluh? Ya, dia harus terima saya apa adanya dong, masakan tiba-tiba saya disuruh berubah. Dia sudah tahu kok kebiasaan saya dari sebelum kami married. Kata istri berparas cantik itu ketus. Tapi masakan shopping dan ke salon lebih penting daripada ngurus anak? Menurut saya itu tidak benar. Seharusnya dia sebagai ibu mau mengerti. Sahut suaminya tidak kalah sengit. Wah! Ini adalah gendang peperangan. Sering sekali saya menerima keluhan-keluhan baik dari istri ataupun suami mengenai hal-hal yang seharusnya diterima oleh pasangan sebagai sesuatu apa adanya. Masalahnya menerima apa adanya sering diartikan sebagai suatu kalimat mati yang tidak boleh ada lanjutannya.
Bukan kabar menyenangkan tetapi saya sering harus mengatakan kepada suami atau istri yang menganggap kalimat tersebut adalah kalimat mati bahwa sebenarnya, kalimat menerima apa adanya justru merupakan kalimat awal. Malah sebenarnya adalah kalimat pembukaan, dimana setelah mendengar hal tersebut kita perlu usaha-usaha besar untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam kasus di atas, jika sang istri tahu benar bahwa ia begitu senang shopping sampai mengabaikan kepentingan mengurus anak, istri tersebut perlu menerima kenyataan bahwa dirinya memang senang shopping tetapi kenyataan itu ternyata berdampak kurang positif terhadap anak-anaknya sehingga ia harus melakukan usaha untuk memperbaiki keadaan. Jika saja dia tidak menerima kenyataan bahwa hobby shopping-nya itu yang mengakibatkan pengurusan anak terbengkalai, maka ia tidak akan tahu bahwa yang harus dibenahi adalah hobby shopping-nya tersebut. Dengan menerima suatu masalah sebagai apa adanya, ini merupakan hal yang baik karena kita tahu langkah apa yang bisa kita ambil untuk memperbaiki keadaan. Tetapi kebanyakan orang sering mengatakan, ya, sudah! Kamu tahu aku memang begitu adanya. Jangan bawel nyuruh-nyuruh aku berubah!
Banyak sekali lagu-lagu cengeng yang bersyair minta dicintai apa adanya, ber-thema saya tidak punya apa-apa, saya orang biasa tidak pantas untuk kamu; saya memang orang susah, cuma punya cinta; saya tidak punya uang, saya tidak pantas untukmu. Seandainya benar ada pria ataupun wanita yang mengatakan hal-hal cengeng demikian kepada calon pasangan hidupnya, saran saya secara ketus adalah, jangan menikah dengannya! Karena itu berarti anda akan mendapat pasangan hidup yang penakut atau mungkin pemalas yang di masa depannya tidak akan memperjuangkan anda. Terdengar sekali dari kata-katanya yang miris.
Seorang senior kenalan baik saya menceritakan pengalamannya, ia mempunyai kekasih dan telah menjalin cinta selama 3 tahun, namun akhirnya kekasih lamanya dari SMA tiba-tiba mengajaknya menikah. Kenalan saya benar-benar bingung mana yang harus dipilihnya, kekasihnya yang dikencaninya selama 3 tahun, atau mantan kekasih SMA-nya. Dia sendiri melihat kekasihnya kurang jelas mau membawa hubungan mereka sampai kemana. Akhirnya, ia memberanikan diri berkata kepada kekasihnya itu, pacar SMA-ku mengajak aku nikah. Katanya pendek. Kamu mau? Tanya sang pacar datar. Menurutmu bagaimana? Tanya kenalan saya itu lagi. Ya terserah kamu sajalah, kalau kamu memang merasa dia lebih baik buat kamu, ya tidak apa-apa, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa maksa-maksa kamu. Itu kan hidup kamu. Kamu lihat sendiri, saya memang begini-gini aja mungkin dia lebih pantas buat kamu. Kata kekasihnya itu ketus. Wanita itu berkata kepada saya, Yacinta, kalau saja pada saat itu dia berkata, jangan! Katanya kita akan cicil rumah bersama sesuai dengan janji kita bersama, kita akan punya rumah yang mempunyai halaman belakang yang luas, punya anak, dan sebagainya Jika itu yang dikatakannya, saya pastilah punya harapan baik untuk tetap menanti kesiapannya menikah dengan saya, tapi saya lihat dia terlalu pasrah, saya berkesimpulan dia tidak akan memperjuangkan rumah tangganya jika suatu saat kelak ada apa-apa dengan rumah tangganya. Jadi, 1 bulan kemudian saya menikah dengan mantan kekasih SMA saya tanpa ragu-ragu. Kata kenalan saya itu. Saya mengangguk-angguk setuju. Ini bukan soal setia atau tidak setia, ini soal mendapatkan pasangan yang mau memperjuangkan masa depan bersama. Kalimat-kalimat pasif seperti itu memang tidak patut dikasihani, justru jika dituruti, bisa-bisa kita mengorbankan masa depan kita.
Ada bedanya antara menyerah dengan berserah! Jika kita menerima diri apa adanya sebagai kalimat mati, itu berarti kita menyerah, namun jika kita menerima diri apa adanya dengan berserah, itu berarti kita menerima apa adanya tetapi kita berserah kepada-NYA untuk tetap menjalani hidup secara positif dengan penuh harapan. Saya yakin Tuhan Pencipta tidak suka melihat orang yang mudah menyerah. Omong-omong tentang kenalan senior saya itu, sekarang ia mempunyai 3 orang anak dengan keadaan ekonomi rumah tangga yang semakin meningkat. Dia mendengar bahwa kekasih lamanya masuk penjara. Ah! Untung aku membuat keputusan yang benar! Serunya dengan mata berbinar-binar. Saya pun setuju dengannya, ia benar telah memilih mantan kekasih yang menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya memang sudah punya pacar, tapi tetap layak diperjuangkannya. Seorang pejuang telah mendapatkan kekasihnya. Yah! Semoga kisah anda juga demikian. Pilihlah pasangan hidup, pasangan bisnis atau teman yang mempunyai mental mau menerima apa adanya dan siap memberikan perubahan yang positif, bukan orang yang mau menerima apa adanya dan mengisi hidupnya dengan keluhan-keluhan yang tidak jelas. Merepotkan!
Hindari bahaya lagu negatif!
Artikel: 20 - 25/10/2008
Penulis: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Banyak orang tidak perduli dengan syair sebuah lagu, selama lagu itu mempunyai irama yang enak didengar maka orang akan cenderung mengulang-ulang lagu tersebut. Sayangnya, walaupun telah begitu banyak artikel yang membahas tentang efek kata-kata, masih banyak orang yang belum mau percaya bahwa dampak sebuah lagu yang memiliki kata-kata miris cenderung negatif akan berpengaruh langsung pada kehidupan orang tersebut.
Beberapa murid kami selalu mengatakan, saya hanya senang iramanya saja kok, itu kan cuma lagu, nggak sungguhan. Sebut saja Adi, murid saya yang sangat menyukai lagu-lagu putus cinta; walaupun secara pribadi saya melihat ia seseorang yang baik hati, tetapi gaya bicaranya dan gaya berjalannya hampir selalu tidak antusias. Di dalam aktivitas bermain pun ia tampak tidak perduli tentang kalah dan menang. Suatu hari tiba-tiba dia berkata kepada saya, cewek dimana-mana memang jahat ya, coach! Saya bertanya apa alasannya ia berkata demikian, sebab cewek-cewek yang saya coba dekati, rata-rata awalnya baik, tapi lama-lama menyebalkan Jawabnya. Adi bukan satu-satunya orang yang saya temui dengan masalah yang serupa. Cukup banyak orang yang saya kenal pencinta lagu-lagu mellow negatif bermasalah dengan kehidupan percintaannya.
Saya seorang pengagum berat Krisdayanti. Sampai hari inipun masih demikian. Pernah di dalam perdebatan dengan seorang rekan kerja, dia melontarkan bahwa dia kurang menyukai Krisdayanti dan beberapa rekan saya lainnya setuju tidak menyukai Krisdayanti, tetapi saya membelanya; saya mengemukakan sisi-sisi kuat positif dari Krisdayanti bahwa ia mempunyai suara yang bening, ia seorang yang disiplin dan mau terus meng-upgrade diri untuk tetap eksis dan itu pula yang menjadikannya mampu bersaing dengan begitu banyak penyanyi lainnya. Seseorang dengan mental seperti itu saya pikir sangat layak dikagumi.
Jika saya amati pilihan-pilihan lagu Krisdayanti, cukup banyak lagu-lagunya yang bernuansa ceria ataupun mellow positif. Seperti lagu mencintaimu, walaupun mellow, tetapi lebih menampilkan harapan untuk tetap mencintai, bukan sebagai korban cinta. Sayangnya, belakangan ini lagu-lagu pilihan Krisdayanti mulai ke arah yang bersifat perselingkuhan seperti Pilihlah Aku ataupun bersifat korban cinta Cobalah Untuk Setia, Im sorry, good-bye. Seiring dengan lagu-lagu itu, mulai terdengar berita-berita keretakan rumah tangganya, walaupun memang masih selalu ditepisnya.
Tidak adil jika kita hanya mengamati satu orang saja, coba lihat kisah kehidupan cinta para penyanyi yang lagu-lagunya pernah meledak seperti Betharia Sonata dengan Hati yang luka lagu yang benar-benar pernah menggemparkan di era 80-an, Maia-Mulan dengan Teman Tapi Mesra, Laki-laki Buaya Darat. Amati juga kisah hidup deretan nama lainnya pelantun lagu-lagu yang kebanyakan mellow negatif seperti Ariel Peter Pan, Bam Samson, Rossa yang pernah sampai 8x sehari melantunkan lagu Ayat-ayat Cinta; Pasha Ungu pun cenderung mellow negatif dimana pernikahannya pun pernah berada di ujung jurang perceraian. Positifnya, album religi grup-nya ini berhasil luar biasa dan tidak heran bila pernikahannya dapat terselamatkan.
Tidak harus selalu penyanyi dalam negri dijadikan contoh, bisa dilihat juga alur hidup Britney Spears; setelah sukses dengan lagu, Oouups I did it again, ia menikah hanya selama 48 jam dengan kekasih lamanya, ketika menyanyi Im your slave, ia jatuh di pelukan Justin Timberlake dan putus cinta, ketika menyanyikan Toxic, hidup Britney kemudian memang seperti keracunan, dari seorang penyanyi berparas innocent menjadi seorang pribadi yang benar-benar kehilangan arah. Apakah ini semua hanya kebetulan saja?
Rentetan kata-kata yang diulang-ulang pada diri sendiri akan menjadi suatu hal yang sungguh terjadi. Mengapa hal itu terjadi? Dalam bukunya The Hidden Messages in Water, Masaru Emoto menggunakan teknik fotografi kecepatan tinggi untuk membuktikan bahwa karakter kristal yang terbentuk dalam air beku berubah ketika pikiran tertentu diarahkan padanya. Air yang dihadapkan pada kata-kata kasih sayang seperti terima kasih dan saya sayang kamu menunjukkan pola mirip kepingan salju yang indah dan rumit serta memiliki warna indah. Sementara itu, air yang dihadapkan pada pikiran negatif, seperti dasar bodoh menghasilkan desain kacau-balau yang asimetris dengan warna-warna kotor. Karena 90% tubuh manusia terdiri atas air, kita bisa menyimpulkan bahwa kita bisa dipengaruhi oleh pikiran yang diarahkan orang lain atau sesuatu seperti lagu yang berulang-ulang kita sebutkan dan tanpa terasa kita hayati. Masih di buku yang sama, sebuah keluarga melakukan eksperimen dengan beberapa kendi beras. Mereka menyiapkan kendi berisi beras, dan setiap hari selama sebulan, mereka mengatakan terima kasih pada satu kendi serta dasar bodoh pada kendi yang satu lagi. Di akhir bulan, beras pada kendi yang mereka bisiki ucapan terima kasih mengalami proses fermentasi, dengan bau lembut seperti ragi. Beras dalam kendi yang lain membusuk dan hitam.
Apa yang terjadi di dalam hidup kita memang tidak lepas dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan. Kabar baiknya, kita bisa memilih hal yang baik untuk mempengaruhi pikiran kita. Sekarang dimana anda telah mengetahui besarnya pengaruh kata-kata yang anda pilih untuk anda ucapkan berulang-ulang, sebaiknyalah dengan bijaksana anda memilih kata-kata yang baik untuk didengar ataupun untuk diucapkan. Untuk lagu-lagu yang walaupun nadanya terdengar indah, sebaiknya anda mempelajari dahulu isi syairnya. Justru jika lagu itu berisi syair positif, dengar dan nyanyikanlah berulang kali. Disadari atau tidak, hal baik akan terjadi. Selamat mencoba!
Jln. Pluit Selatan II no.3
Jakarta Utara 14450
ph: 021-70650001
fax: 021-6603390
alt: 6603390
info